Antara Waktu Pribadi dan Bersosialisasi

Setiap orang saya rasa sudah tahu bahwa manusia adalah makhluk Sosial. Manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain. Semuanya saling membutuhkan, saling ketergantungan.
Namun, di sisi lain manusia di muka bumi ini juga sebagai individu. Mereka memiliki kepentingan-kepentingan guna memenuhi kebutuhan mereka akan suatu hal. Oleh sebab itu kita mengenal Teori Kebutuhan dari Maslow. Ada lima aspek yakni fisiologis, keamanan, kasih sayang, merasa dihargai, dan aktualisasi diri.
Dengan adanya kebutuhan tersebut, manusia akan berusaha agar kebutuhan itu terpenuhi. Namun, memang, adanya usaha tersebut, ada tumpang tindih antara mereka, manusia, sebagai individu dan sebagai makhluk sosial.
Manusia sebagai individu memiliki hak untuk memenej kehidupannya. Melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan dan menjalani aktifitas. Di sisi lain, manusia sebagai makhluk sosial juga dituntut untuk bersosialisasi. Tentunya, diharapkan kedua aspek ini bisa seimbang.
Anyway, saya agak sedikit kesal dengan pesan singkat dari salah seorang rekan saya saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) beberapa bulan yang lalu. Isi pesan singkatnya kurang lebih seperti ini:

“Malam teman2,
Maaf mengganggu,
…….
Diminta pengertian N kepedulian tmn2. . .
Semua di antara Qt pasti sibuk,
Tp sesibuk apa pun Qt masih bisa kan saling brbagi. . .”

Pesan singkat itu (mungkin) ditujukan untuk semua rekan-rekan KKN saya yang lain karena ada salah satu rekan kami yang mengalami kecelakaan dan rencananya akan menjenguk dia.

Namun, sayangnya saya sedikit tidak setuju dengan bahasa di pesan tersebut. Yang seolah-olah men-judge saya (sebagai penerima pesan) tidak care dengan yang lain.
Well, kembali ke pembahasan di awal. Sebagai individu, ada kondisi dimana saya harua menyelesaikan tugas, kewajiban, dan segala aktifitas saya. Saya memiliki waktu untuk mengatur itu dan memanfaatkannya semaksimal mungkim. I have private time, right? Semua manusia juga punya itu.
Saya juga makhluk sosial. Sebelum pesan itu, beberapa hari sebelumnya saya juga menerima pesan tentang hal yang sama, namun saya membalas kalau untuk mendiskusikan masalah tersebut saya punya waktu selama saya berada di kampus. Dan saya juga mengatakan, di luar jam kampus, saya tidak bisa. Salahkah jika saya menulis hal tersebut?
So, menurut saya pribadi, kita berhak memilih waktu kapan kita kita bisa bersosialisasi. Kalau toh kita paksakan untuk bersosialisasi demi jaga gengsi atau apalah namanya, tapi tugas kita sebagai individu tidak beres, apa gunanya?
Atau kita malah menguras tenaga untuk mengejar semuanya. Sibuk dengan rutinitas sehari-hari, terua karena nggal mau dibilang nggak setia kawan, kita pun ikut nimbrung dengan rekan-rekan pas malamnya, padahal kondisi kita udah drop banget. Jika kondisi itu dihadapkan ke saya, tentu saya akan menolak.
Bagi saya pribadi (maaf kalau ini terlihat egois) waktu bersosialisasi yang bersosialisasi-lah. Tapi, jika terbentur dengan waktu di mana kita ingin menikmati waktu pribadi, maka orang lain sebaiknya tidak perlu mengusik itu. Harap maklum. Karena manusia juga memiliki keterbatasan tenaga, waktu, dan pikiran. Tapi, jangan sesekali ngejudge seseorang bahwa dia tidak peduli, tidak mau berbagi. Ada saatnya peduli dengan orang lain, namun ada pula saatnya mempedulikan diri sendiri. Saya rasa itu bukan hal yang patut dipertentangkan, bukan?

©dilanovia 29102012 19:45

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: