Sebuah “Perhitungan” Sebelum Pernikahan

Reading a novel by Ika Natassa, Twivortiare. Banyak banget pelajaran yang bisa kalian dapet kalo baca ini novel. Ika Natassa kalau nulis novel emang bikin para pembacanya senyum, kesel, seneng, sedih, dan yang pasti “mikir”. Campur aduk, deh. Ceritanya ringan tapi dalem.

Well, dalam novel ini, ada kalimat yang membuat saya merasa menjadi orang stupid yang nggak pernah kepikiran sampai ke situ. About commitment before merried. Memang, sih, menikah masih berada di urutan kesekian-sekian-sekian in my life. Butatleast, saya jadi sedikit paham dan, yah, ada sedikit gambaran lah gimana ke depannya.

Kalau kalian punya novelnya, coba deh di cek mulai dari halaman 167. Isinya begini,

“Dalam Islam, suami yang wajib memenuhi nafkah kepada istri dan anak, termasuk full secara finansial, istri tidak ada kewajiban kepada suami. So, sebaiknya, sebelum menikah, dipastikan dulu. Calon suami lo itu sanggup nggak menafkahi? Ini bukan matre ya, tapi masalah kewajiban suami”.

“To put it bluntly; kalau nggak sanggup, kenapa berani-berani melamar?” :)”

“Pembicaraan tentang uang: aset, income, dan utang masing-masing berapa pun itu harus terbuka dilakukan sebelum jadi suami-istri.”

“Dulu, before our first wedding, Beno dan gue duduk bareng di apartemen gue, each of us brought a sheet of paper isinya daftar itu tadi. The money each of us got saved in the bank (tabungan, deposito, reksadana), the market velue of his apartement and my apartement, tanahnya dia…”

“…the market velue of our cars, cicilan apartement dan mobil gue, cicilan mobil dia. Semuanya.”

“About menikahi, that night we had that talk, Beno langsung ngomong, “Lex, ini aset kamu dan penghasilan kamu disimpen buat kamu aja ya.”

“Then he said, “mulai kita menikah nanti, semua kebutuhan kamu dan keluarga, itu kewajiban aku. Everything.”

“I said bahwa nggak enak juga kalau begitu, secara I left the need to also contribute to the merriage. Nggak enak serasa numpang hidup doang.”

“He said, “Alexandra, secara Islam itu kewajiban suami, so please allow me to do so, ya.”

Jadi, intinya Ika menulis seperti itu supaya kita-kita yang belum menikah ingat untuk bicara terbuka tentang itu sebelum menikah. Jangan mikirin cinta-cintaan aja.

Then, Ika juga nulis begini,

“Bertemu dengan suami yang sanggup menafkahi lo itu sama sekali bukan keberuntungan kalau menurut gue. Kan lo punya pilihan buat menikah sama siapa aja.”

“Menurut gue, konsep “mari kita meniti bareng” a.k.a dia ngajak lo patungan di awal pernikahan itu, kalau gue sih nggak mau. Paling nggak, basic need, seperti uang belanja, kebutuhan sehari-hari, dan the place where you live, dia harus bisa penuhi.”

“Sebagai istri, kalau suami lo juga bisa memenuhinya pas-pasan aja, dan lo mau menikah sama dia, jangan kurang ajar terus shopping-shopping nggak jelas.”

“Gue nggak bilang bahwa mau meniti bareng dari bawah itu salah lho, kan tiap orang punya pertimbangan masing-masing. Tapi harus jelas dibahas dari awal. Mau sampai kapan “meniti bareng-bareng”? Sedangkan jelas-jelas menafkahi itu kewajiban suami. Itu menurut gue.”

Nah, di akhir sessi “education for pra wed” ini Ika bilang begini,

“Jangan malu dan sungkan untuk nanya ini ke calon suami lo ya. Kalau dia tersinggung ditanya begitu, berarti belum cukup mature.”

*Termenung* *Tarik nafas dalem-dalem*:-/

Kalau nyari suami yang mapan seperti yang dibilang Ika, susah juga ya. But, I agree with her. Selama ini saya nggak pernah terpikir akan hal ini. Ternyata menikah nggak segampang yang saya bayangkan! Musti komitmen ini, itu, sebagainya.

And the biggest point why I love and adore this book is because Twivortiare ini mengajarkan kita tentang hal-hal yang kelihatannya sepele, tapi ketika dibahas dalam novel ini, kita langsung mikir, “bener juga, ya.”

So, thank for your great advices, sista. Setidaknya ada gambaran yang saya dapat, for my self, my life, my candidate husband, dan gimana-gimananya kami, nantinya.[]

©dilanovia 16102012 17:06

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: