E-KTP, Eh, Bikin Bete!

::WELCOME TO SHIT PLACE::


Here I am! Berada di antara lautan manusia yang sedang antri mengambil sebuah benda seukuran kartu kredit. Benda yang bagi masyarakat seperti saya dan mungkin bagi orang-orang yang ada di sini cukup penting. Dianggap penting sih lebih tepatnya :p
Well, nggak ada yang nggak tau E-KTP kan ya? Benda itu yang sekarang sedang saya tunggu. Keputusan pemerintah mengharuskan masyarakat untuk mengubah KTP manual menjadi KTP elektrik. Musti daftar lagi, buat lagi, terus ngambil lagi.
Nah, E-KTP itu harus dibuat oleh semua masyarakat, yang artinya bakalan banyak masyarakat yang bakal antri untuk membuat dan otomatis akan mengambil benda itu.
Dan ini yang saya sesalkan. Pemerintah memaksa masyarakat untuk membuat E-KTP, tapi pelayanan dalam proses pembuatan dan pengambilannya saja menyedihkan.
Well, nggak usah bahas proses pembuatannya. Saat ini saya fokus membahas tentang kondisi pengambilan E-KTP di kecamatan tempat saya tinggal.
Saya tidak tahu bagaimana kondisi pengambilan E-KTP di kecamatan lain, tapi yang jelas di sini saya agak-agak kecewa.
Bayangkan saja, yang mengambil E-KTP itu pasti banyak banget. Tapi, di sini, masyarakat dibiarkan mengantri, bertumpuk-tumpuk, berdesak-desakkan, di depan pintu kecil buat menanti sang kartu identitas itu ada di genggaman.
Nggak hanya itu, perlengkapan yang digunakan pun seadanya. Bahkan, kalau saya bilang, nggak ada. Apa salahnya orang camat sini menggunakan microphone alias alat pengeras suara untuk memanggil nama masyakarat yang sedang antri. Lha ini, masyarakat banyak, ribut, ngantri, petugasnya malah memanggil dengan suara seadanya. Crap!
Lagian, apa salahnya kalau aparat pemerintah di sini menyediakan tenda dan kursi atau tikar atau apalah yang layak, yang manusiawi dijadikan tempat duduk untuk masyarakat yang antri. Coba kalau ada kursi dan tenda, masyarakat yang ngantri pasti lebih bisa terkendali. Pegawai yang bertugas pun pasti lebih enjoy, nggak kena hantaman sumpah-serapah. Kalau sudah seperti itu pastinya kondisi di sini bisa nyaman dan menyenangkan.
Ini tidak! Kasaian masyarakat! Mereka dipaksa buat E-KTP dan secara nggak langsung, karena pelayanan yang buruk ini, mereka juga dipaksa desak-desakan, himpit-himpitan.
Saya dengar celetukan dari salah seorang masyarakat yang juga sedang menunggu kartu identitas itu. “Benar-benar nggak sesuai sama misinya. Katanya pelayanan yang cepat dan tepat,” celetuknya. Kata-kata itu sih masih mendingan, ya. Malah ada yang memgeluarkan kata-kata yang agak tidak sopan. Yah, segala macam sumpah serapah, celaan, dam sindirian nggak sopan, tajam, nusuk, parah pokoknya. Semuanya bergumul di dalam lautan manusia di pagi ini.
I don’t know, apa pegawai itu nggak dengar, pura-pura nggak dengar, nggak peduli, pura-pura nggak peduli, masa bodoh dengan kondisi yang ada, atau emang mereka punya hati sabar mendengar hujatan masyarakat. Whatever-IDontCare.
So, my goverments, tolong, kalau mau program kalian sukses, jangan cuma mikir gimana cara program itu cepat selesai. Tapi, pikirkan juga gimana keadaan masyarakat kalian yang menjadi objek dari program kalian itu. Lihat dong gimana proses yang kalian ciptakan selama ini, selama proses pembuatan E-KTP ini. Bikin E-KTP, eh, malah bete! []

©dilanovia 03102012 09:22

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: