Geng Motor, Salah Keluarga atau Salah Media?

Pagi tadi saya mendenger radio RRI Pekanbaru Programa 1. Saya lupa apa nama programnya, tapi acara pagi itu semacam dialog interaktif. Temanya–you know–kabar yang sedang panas yang terjadi baru-baru ini yaitu Geng Motor.
As you know, geng motor memang kembali berulah di kota bertuah ini. Dulu sempat sempat terjadi, tapi udah reda, eh malah ada lagi. Nah, saya cukup antusias mendengarkan dialog interaktif tersebut. Banyak sekali opini-opini yang dikemukakan oleh masyarakat (pendengar). Tapi, intinya cuma satu, anak-anak geng motor itu salah asuh. Mereka berbuat seperti itu karena didikan orang tua yang tidak tepat.
Benarkah?
Wait. Jujur saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat itu. Yeah, I know, yang namanya pendapat setiap orang pasti beda-beda. Tapi, yang saya sayangkan, announcer-nya pun terlalu pasif dalam menerima opini para pendengar. Hanya di-iya-kan saja. Dia tidak membuka celah baru agar pikiran masyarakat tidak terpumpu ke alasan “salah asuh” atau “salah keluarga” tadi.
Well, sekarang saya tanya ke Anda. Dari mana Anda tahu tentang Geng Motor? Dari mana Anda tahu kalau Geng Motor itu jahat? Siapa yang mendeskripsikan kalau Geng Motor itu bukan kelompok anak yang baik-baik? Siapa yang memberikan label kalau Geng Motor itu menakutkan? I think, jawabannya cuma satu, yakni Media.
Dari medialah kita mengetahui tentang ulah para Geng Motor, betapa jahatnya mereka, berapa banyak korban yang mereka lukai, bagaimana sistem perekrutan anggotanya, bahkan cara kerja mereka. Semuanya dari media.
Mungkin, dulu, media memberitakan ulah para geng motor itu untuk memberikan informasi kepada masyarakat agar masyarakat waspada. Tapi, ada sekelompok anak yang malah menyalahgunakan berita tersebut. Mereka malah “terhimbau” untuk ikut-ikutan seperti geng motor tersebut.
Nah, jangan terlalu bertumpu kalau ulah para geng motor itu karena salah asuh dari orang tua mereka, karena keluarga. Bukannya saya subjektif, yaa. Keluarga memang kelompok atau unit terkecil dari seorang individu dalam bersosialisasi. Dari keluargalah seorang individu dinamakan makhluk sosial. Tapi, alangkah lebih baiknya memandang penyebab kasus geng motor dari sisi yang berbeda. Selain orang tua, banyak sekali faktor lain. Ada media (seperti yang saya sebutkan di atas). Bisa juga karena faktor teman dan pergaulan. Media, teman, dan pergaulan cukup besar pengaruhnya saat ini!
Persoalan ini tidak bisa dilihat dari satu sisi. Mengapa bisa ada geng motor? Kenapa anak remaja mau terlibat dalam geng motor itu? Banyak sekali faktornya. Tidak hanya keluarga.[]

©dilanovia 02102012 20:24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: