Hemat Pangkal Bahagia

Memang betul kata orang, nyari duit itu sulit, ngabisinnya gampang banget. Shit, jadi galau kalau ingat-ingat pengeluaran saya baru-baru ini. Merasa bersalah. Merasa jadi orang paling bodoh karena ngabisin uang sebanyak itu hanya dalam waktu sekejap!

Yang bikin makin terpukulnya pas orang tua menyuruh saya berhemat. Dengan berbagai alasan yang membuat saya sedih. Sedih karena kemarin-kemarin saya tidak berpikir panjang. Padahal masih ada hari esok. Banyak hal yang ingin saya gapai, untuk masa depan saya, tapi bodohnya saya tidak menyiapkan hal yang paling urgent, duit!

Kalau pun ada, rasanya apa-apa yang ingin saya dapatkan itu tidak sebanding dengan simpanan saya saat ini. Mau hemat? Mauuu sekaliii. Tapi, selalu saja ada godaan untuk shopping dan shopping dan shopping dan shopping. Susah banget kalau berurusan sama yang satu itu. Selalu merasa kekurangan dan nyesel kalau melihat benda bagus terus nggak beli. Hhh… Saya pun merasa disindir kalau sudah nonton film confession of shopaholic.

Persis sekali sifat aktris di dalam film itu dengan sifat saya. Nggak bisa melihat barang bagus. Pengennya beli terus. Nggak bisa nahan godaan. Dan ujung-ujungnya nyesel karena baru nyadar cuma buang-buang duit. Lapar mata. Tapi, namanya film tentu si aktor atau aktris selalu dimenangkan. Endingnya, si aktris sadar, barang-barang koleksinya dia jual, dan dia berhasil menahan godaan belanjanya. Semuanya terlihat lancar-lancar saja. Lha kalau di kehidupan nyata bagaimana? Apa bisa kisah nyata kehidupan semulus kisah di film-film?

Well, you know, saya ingin menang. Menang melawan nafsu belanja saya. Saya ingin hemat. Ingin sekali. Pengen punya tabungan banyak biar suatu saat, jika hal-hal buruk di luar dugaan saya terjadi, saya bisa mengatasinya. Walau “uang” bukan hal yang menjadi prioritas hidup, tapi nggak usah munafik lah, uang itu penting.

Oya, pernah terlintas pikiran bodoh saya. Jika suatu saat saya butuh uang alias bangkrut atau apalah namanya, saya ingin menjual barang-barang hasil belanja gila saya itu. I’ll open a garage sell. Itu lah satu-satunya penghibur saya dari sekian banyak penilaian negatif terhadap hobi shopping saya ini.

Ya, banyak yang memandang negatif yang namanya ‘hobi belanja’, i know that. Tapi, garage sell itu yang menjadi satu-satunya penyemangat saya. Saya tahu hobi belanja itu bukan hobi yang baik. Tapi, benda-benda hasil belanja itu bisa dijual lagi dan menghasilkan uang lagi.

I believe, di dunia ini nggak ada yang sia-sia. Walau saya dipandang menyia-nyiakan uang, mudah-mudahan “penyia-nyiaan” yang berwujud barang-barang ini dapat bermanfaat. Namun, tentunya saya tidak ingin hal itu terus berlanjut. Saya ingin hemat. Pepatah bilang, hemat pangkal kaya. Tapi, bagi saya hemat pangkal bahagia. Harus lakukan itu sekarang. Harus! []

©dilanovia 20092012 19:32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: