To Be Number One (Susah Senang Jadi Anak Pertama)

Ntah mengapa, kebanyakan manusia itu ingin menjadi yang yang pertama, yang nomor satu. Betul juga teori hirarki kebutuhan dari Maslow. Di mana salah satu hirarkinya yakni kebutuhan akan pengakuan dari lingkungan. Dan aspek pendukungnya, ya menjadi nomor satu itu. Bahasa kasarnya, manusia itu ingin dianggap. Untuk dianggap mereka harus tampil eksis. Berada di posisi depan, nomor satu!
Coba saja lihat, anak-anak SD saja maunya juara satu. Para atlet ingin mendapat emas, yang artinya harus mendapat posisi nomor satu ketika berlaga. Bahkan, orang-orang “di atas” sana pun berebut untuk menduduki kursi nomor satu. Semuanya serba ingin serba nomor satu.
Tapi, ada kegalauan tersendiri bagi saya yang memang sejak lahir sudah mendapatkan posisi nomor satu–di keluarga. Saya ditakdirkan untuk menjadi anak sulung, anak nomor satu.
Jika dirunut ke ranah yang lebih luas lagi, ibu saya merupakan anak pertama, dan ayah anak tunggal. Hal ini juga menjadikan saya sebagai keturunan pertama dari keluarga ayah dan ibu. Saya cucu pertama dari nenek dan kakek.
Tak ada maksud bangga. Saya malah dilema. Menjadi anak tertua merupakan sebuah tantangan yang cukup berat. Cukup besar tanggung jawab yang harus diemban. Mulai dari mendidik adik-adik, menjadi contoh yang baik bagi adik-adik, hingga menjadi tolak ukur keberhasilan adik-adik.
Ketika keluarga besar berkumpul, salah satu trending topic-nya adalah kesuksesan anak-anak. Dan saya sebagai anak/cucu pertama selalu menjadi harapan bagi keluarga-keluarga. Mereka mengharapkan saya sukses. Sehingga dapat menjadi contoh dan penyemangat untuk adik-adik.
Sebenarnya ada ketakutan akan hal itu. Saya takut harapan besar kedua orang tua, nenek dan kakek, dan om tante itu tidak bisa terpenuhi. Bukan pesimis, tapi untuk berjaga-jaga saja. Sebenarnya ada tantangan tersendiri juga. Membuat saya lebih mandiri, bertanggung jawab, lebih kuat. Tapi, kadang Saya takut tidak bisa memenuhinya harapan-harapan itu. Apalagi dengan kepribadian saya yang cenderung lebih suka menyendiri di tengah-tengah keluarga.
Ah, sesulit itukah anak pertama? Apakah anak pertama harus menjadi “yang pertama” (?) Menjadi hero dalam keluarga? Mudah-mudahan, tidak adalah jawabannya. Adik-adik kita bisa saja lebih sukses dari kita kelak. Bisa saja dia yang mengangkat derajat keluarga. Who knows! []

©dilanovia 14062012 23:31

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: