Produk Media, Mencuci Otak Manusia

Sudah lama pemirsa terbiasa dengan produk-produk reality show, baik yang bersifat menghibur, penuh gosip dan fitnah, provokatif, memotret sisi buruk manusia, menjebak, dan lain-lain. Pemirsa tertawa-tawa melihat orang  dijebak, ditipu, dipertontonkan kekikirannya atau ketidakmampuannya mengelola emosi. Mereka tahu semua yang disebut ‘reality show’ itu cuma tipu-tipu, rekayasa, seolah-olah, make-believe, TAPI mereka tidak keberatan.

Begitu juga dengan acara infotaiment yang penuh drama, sarat gosip, glamourous, dan sebagainya. Tayangan infotaiment secara bebas menelanjangi kehidupan pribadi seseorang. Tanpa belas kasihan dan menimbang-nimbang. Apakah yang diberitakan akan merasa nyaman atau tidak. Bagaimana perasaan anak atau sanak keluarga mereka. Semuanya dilakukan demi rating, iklan yang banyak, demi kepuasan penonton.

Di satu sisi, penonton pun mau saja disuapi produk-produk media seperti itu. Tidak mendidik, tidak beretika, dan cenderung hura-hura. Mereka tidak memfilter, mana yang benar-benar pantas untuk dikonsumsi, mana yang tidak.

Jika media beralasan pihaknya memiliki fungsi untuk menghibur, boleh-boleh saja. Tapi, menghibur yang bagaimana? Apakah mempermalukan orang, lalu menyiarkannya di layar kaca itu manusiawi? Melihat seorang artis disulut kemarahannya hingga ia melempar kursi itu wajar? Menceritakan kehidupan rumah tangga orang itu sah-sah saja?

Sayangnya, masyarakat sekarang menilai hal itu merupakan hal yang lumrah terjadi, bahkan hal tersebut lucu, menghibur, menghilangkan stress. Apa iya?

Belum lagi infotaiment yang dengan liarnya tampil di televisi. Saat masyarakat sarapan pagi, makan siang, atau minum teh di sore hari, infotaiment setia menemani. Masyarakat pun dibuat terlena dengan kisah ranjang sang artis, perceraian, tindakan kekerasan dalam rumah tangga, koleksi aksesoris si artis yang beratus-ratus banyaknya, atau sepatu sang artis yang harganya puluhan juta.

Pentingkah informasi semacam itu? Tentu saja di antara pemirsa ada yang tidak keberatan, malah menikmati tontotan itu, yakni golongan manusia yang suka melihat kehidupan pribadi bahkan aib orang lain dibuka di hadapan publik, sebagai hiburan.

Remaja pun disuguhi sinetron-sinetron yang mempertontonkan kehidupan glamor, anak sekolahan dari keluarga jetset, memiliki penampilan khas (rok sekolah di atas lutut, bahasa gaul, aksesoris di mana-mana), dan lain-lain. Tak tanggung-tanggung, tayangan itu pun ditayangkan hampir setiap malam, tidak putus-putus. Apabila satu sinetron hampir tamat, sudah ada sinetron lain yang akan menggantikannya. Dan apabila sebuah sinetron dianggap menjual, makan akan ada sinetron yang sama dengan session berbeda.

Dulu, yang saya ingat, sebuah sinteron hanya ditayangkan sekali seminggu. Tapi, hal tersebut tampaknnya tidak belaku lagi.

Tak hanya itu, media juga berlomba-lomba mengadakan ajang pencarian bakat atau menyuguhi masyarakat dengan tayangan mistik. Sekarang, yang saya pertanyakan, bagaimana nasib anak-anak muda yang dulu dielu-elukan dalam ajang pencarian bakat tersebut? Apa kabar mereka saat ini? Apakah suara dan kemampuan mereka lainnya hanya dijadikan senjata utama untuk meraih rating, iklan, sponsor, dan keuntungan yang banyak?

Lantas, apa gunanya tayangan-tayangan mistik? Sebenarnya, hakikat pembuatan tayangan tersebut apa? Siapa yang bisa menebak itu benar-benar tayangan asli atau dibuat-buat? Siapa yang bisa memantau siapa saja yang menontonnya? Jika yang menonton anak kecil bagaimana? Setelah mereka menonton, yang mereka rasakan hanya ketakutan ketika ingin buang air kecil di wc rumah mereka sendiri.

Nah, ada pula lucunya. Siaran yang boleh dikatakan memiliki nilai edukasi, cenderung tidak familiar di dalam keluarga masyarakat Indonesia saat ini. Bahkan, karena tidak familiar, ratingnya pun rendah. Ketika rating sudah rendah, media buru-buru menggantinya dengan siaran yang lebih menarik perhatian khalayak. Lantas, siapa yang salah sebenarnya, media atau masyarakat?

Kalau diakumulasikan, berapa persen sebenarnya produk-produk media (dalam hal ini televisi) yang benar-benar mendidik? Porsi manakah yang lebih banyak, mendidik atau malah membodohi khalayak? Adakah KPI melakukan penelitian tentang hal itu? Jika lama-kelamaan produk televisi menyuguhi tontonan yang cenderung tidak mendidik, bagaimana moral bangsa ini? []

© dilanovia, 06042012 00:19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: