Are You Fashionista OR Fashion Victim?

Kalau ngomongin fashion (fesyen) yang langsung terbayang di benak kita pastinya sepatu, tas, baju, parfum dan berbagai aksesoris-aksesoris pendukung lainnya yang paling update. Nggak ketinggalan merek-merek ternama seperti Christian Dior, Vercase, Louis Vuitton, Hermes, Chanel, Fendi, Ferragamo, Giorgio Armani, Fratelli Rossetti, Prada, Valentino, Cartier, dan masih banyak lagi. Itu pun merek-merek dunia yang harganya selangit, belum lagi dari merek bertaraf midle hingga yang paling bawah yang bejubel banyaknya.

Well, forget about branded because i wanna giving an opinion to all of you. Begini, pernah denger kata ‘Fashionista’, bukan? Itu lho kaum pencinta fashion yang kalau soal gaya pasti update banget, selalu ngikutin mode, dan selalu tampil trendi. Then, how about ‘fashion victim’? Denger kata ‘victim’ saja saya rasa anda sudah mengerutkan dahi. Fashion victim alias korban fesyen—korban di sini maksudnya bukan seperti korban-korban banjir, earthquake, tsunami, badai katrina, atau tornado. Korban di sini maksudnya adalah orang-orang yang menderita akibat ingin tampil gaya dan modis. Nah, yang sering jadi korban itu biasanya anggota badan seperti kaki, leher, dan pinggang. Eits, dompet pun menjadi korban ampuhnya juga lho. Duh, kasihan!

Sulit memang memberi batasan antara fashionista dan fashion victim. Mereka yang selalu mengikuti perkembangan dunia fashion memang biasanya selalu tampil gaya. Tak heran jika banyak di antara mereka yang membeli barang-barang fashion yang sedang in dan pastinya menguras banyak biaya. Biasanya yang seperti ini berasal dari kaum elit yang punya banyak duit. Tapi, secara tidak sadar mereka juga menjadi korban fashion. Mengapa? Karena dengan membeli barang-barang tersebut—dengan tujuan biar terlihat modis dan membuat iri ribuan pasang mata—mereka mengorbankan uang mereka untuk itu. Ujung-ujungnya ya tagihan kartu kredit membengkak, bahkan ada yang membeli barang KW yang harganya juga tetap selangit. Sigh!

Now, let’s see the middle or lower class yang juga berharap ingin tampil modis tetapi terkendala dengan biaya. Nah, biasanya mereka yang dari kalangan menengah ke bawah ini sasarannya adalah barang-barang ‘aspal’ alias asli tapi palsu. Demi tapil update mereka biasanya membeli barang-barang ‘bermerek’ dengan harga terjangkau. Bahkan, ada di antara mereka yang membeli model tas/sepatu/baju/aksesoris karena ikut-ikutan seleb yang doyan memakai tas/sepatu/baju/aksesoris serupa tanpa memperhatikan merek dari barang-barang tersebut. “Yang penting mirip sama yang dipakai artis X”,  kira-kira demikian pola pemikiran mereka. Ouch!

Hal seperti itu memang belum berdampak serius. Lagian hak setiap orang sih mau meniru wardrobe artis idolanya—nggak peduli kalau itu barang aspal, hehe. Tapi, bagaimana jika barang-barang aspal tersebut menjadi bumerang bagi si penggunanya. Barang aspal yang harganya tergolong murah tentunya tidak didukung dengan kualitas yang baik. Ini dia yang menjadi masalah. Sepatu, misalnya. Di sepatu itu boleh lah mereknya tertulis Chanel, tapi setelah dua sampai tiga hari pakai, secara tak terduga sol sepatu tersebut lepas, TKP (Tempat Kejadian Perkara) nya di public area pula! OMG, IT’S SO EMBARRASS!

Tak hanya itu, seperti yang saya katakan sebelumnya, anggota badanpun sering menjadi korban. Mengapa saya katakan demikian? Contohnya begini, banyak kaum wanita—yang karena ingin tampil seksi mereka menggunakan sepatu jenis high heel—sekarang pun high heel semakin diminati. But wait, saya sering memperhatikan mereka yang menggunakan sepatu jenis itu terlihat menyedihkan. Ada yang berjalan dengantidaknormallagi karena si high heel membuat kaki mereka lecet. Bahkan, lebih parahnya lagi, mereka yang tidak biasa memakai sepatu high heel—atau sekedar wedges berusaha untuk berjalan normal namun tidak mampu sehingga gaya berjalan mereka terlihat aneh, terlihat sangat dipaksakan. How poor you are!

Lantas apa yang harus dilakukan? Ingin fashionable tapi tidak menjadi budak fashion? For me, to be fashionable bukan diukur dari merek baju apa yang kita pakai, sepatu keluaran mana yang kita gunakan, atau sewangi apa parfum kita. Tapi, bagaimana senyaman mungkin kita dengan tubuh kita dan bagaimana kita terlihat ‘normal’ di hadapan orang. Percuma kan pakai sepatu merek Prada kalau jalan kita terseok-seok dan kaki bengkak, right?

One more, mulai saat ini cobalah belajar untuk tidak menjadi follower alias pengikut belaka. Ngapain ikut-ikutan apalagi membawa petaka bagi diri sendiri. Just be your self guys dan belajarlah untuk menjadi trendsetter. Apa nggak bosan selama ini menjadi follower terus? Cobalah untuk berimajinasi dengan dirimu sendiri, tampil apa adanya seperti apa adanya diri kamu. Ciptakan sebuah gaya yang ‘kamu banget’. Tapi,  tetap dalam kaidah normal and NOT freak!

Sipp!😀

Kamar, 211211 : 00.40

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: