Nguping Supir Angkot

Kalau ada buku yang berjudul Nguping Selebriti, saat ini saya tertarik untuk membuat – well, bukan buku sih, hanya sekedar tulisan yang berjudul Nguping Supir Angkot. Saya tergelitik untuk menumpahkan apa yang saya dengar ke dalam tulisan ini ketika saya berada di angkot beberapa waktu yang lalu.

Well, i think you know about public opinion. Ya, tanggapan seseorang atau suatu kelompok tentang suatu hal yang ia lihat, dengar, atau rasakan. Nah, Pembicaraan antara supir angkot dengan salah seorang penumpang (saat itu hanya tiga orang yang berada di dalam angkot – saya, supir angkot, dan salah seorang penumpang) menyadarkan saya jika mereka juga memiliki pemikiran tersendiri terhadap suatu hal. Bukannya underestimed dengan mereka, but they make me aware because opini mereka berdua cukup cerdas, saya rasa.

Sepanjang jalan dari dalam angkot kami melihat sekelompok orang berpakaian oranye sedang membersihkan serta memperbaiki got yang tersumbat. Memang, jika hujan turun, ruas jalan tersebut selalu dilanda banjir. Alhasil, jalanan akan terhambat dan macet. Suddenly, supir itu langsung nyeletuk kepada penumpang yang duduk tepat di sampingnya, “pemerintah itu karajo satangah-satangah,” ungkapnya dalam bahasa Minang yang berarti, pemerintah itu kerja setengah-setengah.

Awalnya saya tidak tertarik dengan apa yang ia lontarkan. Namun, ia kembali melanjutkan pembicaraan, “bia proyeknyo jalan, kalau satangah-satangah kan inyo bisa dapek pitih taruih,’’ katanya, yang berarti, biar dapat uang terus, kalau setengah-setengah kan mereka bisa dapat uang terus. Perkataan supir angkot tersebut diamini oleh penumpang itu. “Iyo, kalau proyeknyo langsuang abih mano bisa nyo dapek pitih masuak, makonyo kalau ado proyek inyo karajo saparo-saparo”. Iya, kalau proyeknya langsung habis mana bisa mereka dapat uang masuk, makanya kalau ada proyek mereka kerjakan separo-separo. Tak lama kemudian si penumpang sampai di tempat tujuan, ia pun turun dan berakhirlah pembicaraan tersebut.

Short dialog namun membuat saya membuka mata bahwa setiap rakyat, terlepas dari apa, siapa, dan bagaimana mereka, mereka memiliki pemikiran yang tidak bisa diabaikan begitu saja. They have an opinion. Sometime, banyak pemikiran cerdas dari golongan-golongan tertentu, namun karena kesibukan dan pahitnya hidup, pemikiran mereka terkubur begitu saja. ‘Boro-boro mau protes atau mikirin ulah pemerintah, buat makan saja masih susah,’ mungkin demikian yang mereka pikirkan.
Well, saya sedikit tergelitik untuk bertanya, si supir angkot yang melihat kegiatan pembenahan got tersebut langsung memberikan pikiran kritisnya, bahwa kegiatan tersebut merupakan kong-kalikong aparat pemerintah. Apakah Anda, yang menganggap diri Anda intelektual, yang juga pernah melihat kegiatan semacam itu, sempat berfikir ke arah demikian? Atau malah Anda tidak pernah kepikiran sama sekali? Atau Anda malah mengabaikannya begitu saja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: