Contoh Berita Straigh News Kampus

Berikut contoh berita straight news kampus.Tulisan ini merupakan tugas mata kuliah Penulisan Berita

Mahasiswa FISIP Kecam Komersialisasi Pendidikan

Tidak puas dengan kebijikan Ali Yusri, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), beserta jajarannya, puluhan mahasiswa menggempar kampus yang sempat dijuluki green campus tersebut, Selasa (18/10) lalu.

Pekanbaru-Aksi damai yang bertajuk ‘Komersialisasi Pendidikan’ tersebut merupakan ungkapan ketidakpuasan mahasiswa terhadap beberapa kebijakan fakultas yang dianggap memberatkan mahasiswa. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Badan Legislatif Mahasiswa (BLM), serta berbagai organisasi kemahasiswa FISIP lainnya berkumpul di depan gedung dekanat sekitar pukul sembilan pagi.

Ari Nugraha, selaku koordinator aksi, dalam orasinya menolak berbagai bentuk komersialisasi pendidikan yang ditetapkan pihak fakultas seperti, sistem manajemen Gerai Pendidikan FISIP, menolak segala bentuk pungutan liar terhadap mahasiswa dalam pengurusan administrasi akademis, serta mempertanyakan mahalnya biaya wisuda.

‘’Kita harus mengkaji bahwa bentuk pendidikan kita pada hari ini sudah mengarah pada komersialisasi pendidikan yang merupakan lahan bagi para pengusaha-pengusaha atau orang-orang yang berwatak bisnis untuk meraup keuntungan. Pendidikan saat ini tidak lagi mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi pendidikan dijadikan sebagai lahan investasi untuk meraih sumber-sumber dana,’’ tuturnya.

Ia juga menyatakan, tingginya biaya yang ditetapkan oleh fakultas membuat para mahasiswa kesulitan. ‘’Di setiap hal mahasiswa selalu terkendala dengan anggaran, contohnya saja biaya wisuda. Mengapa biaya wisuda di FISIP lebih mahal dari biaya wisuda di fakultas lain? Gerai pendidikan juga begitu, mengapa namanya gerai pendidikan? Gerai pendidikan ini sama sekali menekan mahasiswa, harganya mencekik mahasiswa. Kami yang kuliah di kampus ini tidak semuanya orang kaya,’’ katanya.

 Pihak fakultas yang saat itu diwakili oleh Pembantu Dekan III (PD II) FISIP, Drs Syafri Harto Msi, menanggapi hal tersebut. Menurutnya, biaya wisuda merupakan ketetapn fakultas yang telah disetujui oleh pihak rektorat. Katanya, ada beberapa biaya yang membuat biaya wisuda di FISIP sedikit mahal, namun ia enggan menyebutkan. ‘’Ada beberapa item mengenai biaya wisuda tersebut, kami tidak bisa menjelaskan di sini, nanti kita bisa adakan pertemuan untuk membahas hal tersebut,’’ kata Syafri.

Selain itu, mengenai gerai pendidikan, Syafri menjelaskan bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) telah menetapkan kepada seluruh institusi pendidikan yang ingin mendirikan bangunan untuk menamakan bangunan tersebut dengan nama yang memiliki unsur-unsur edukasi. ‘’Pada saat pengajuan dana, DIKTI meminta nama gedung yang akan dibangun harus memiliki nilai-nilai pendidikan. Untuk itu gerai pendidikanlah yang kita pilih, sebagai syarat pembangunan gedung tersebut,’’ jelasnya.

Selanjutnya, mengenai harga makanan yang mahal, ia menjelakan bahwa pihaknya tidak ikut campur dalam urusan harga yang ditetapkan oleh pedagang. Pihaknya hanya menetapkan sistem bagi hasil. ‘’Kita tidak pernah mencampuri harga yang ditetapkan oleh pedagang. Kita hanya menetapkan sistem bagi hasil, 73 persen untuk pedagang, 27 persen untuk fakultas. Pembagian hasil itu digunakan untuk membiayai segala operasional gerai tersebut. Segala fasilitas kita yang menyediakan, mereka hanya tinggal mengurus dagangan mereka masing-masing. Bahkan, uang sewa pun tidak kita minta,’’ kata Syafri.

Aksi yang berlangsung kurang lebih tiga jam itu pun berakhir dengan tertib. Saat ditemui seusai aksi, Ari Nugraha menyatakan sedikit kepuasannya terhadap penjelasan pihak fakultas, namun ada beberap hal yang belum bisa diterima. ‘’Ada beberapa penjelasan yang cukup memuaskan, namun ada beberapa yang masih mengganjal,’’ kata Ari.

 Hal tersebut, kata Ari, mengenai harga makanan di gerai yang terlalu mahal. ‘’Kita juga berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa, harga yang mahal di gerai itu memberatkan mahasiswa. Fakultas menerapkan sistem dengan menekankan anggaran 27 persen untuk mereka. Sistem  ini layaknya seperti sistem kapitalis yang paradigma berpikirnya tentang bagaimana meraih untung sebanyak-banyaknya. Perguruan tinggi ini adalah lembaga pendidikan. Tidak benar jika lembaga pendidikan menekan mahasiwa dengan cari dana seperti itu. Kembalikan saja sistemnya dengan sistem sewa, agar mempermudah mahsiswa karena dengan demikian harganya tentu tidak naik,’’kata Ari.

Ia berharap, dengan adanya aksi ini ke depannya mahasiswa tidak dipersulit lagi mengenai biaya-biaya yang ada di kampus. ‘’Harapan saya agar teman-teman tidak dipersulit lagi dengan persoalan biaya-biaya. Rasanya tidak etis kalau dalam institusi pendidikan semuanya ditekankan dengan biaya,’’ harapnya.***

Dila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: