Jangan Mau yang Instan!

Jika kita merasakan sesuatu yang sifatnya ‘seketika,’ apalagi rasa itu adalah hal yang kita sukai, tentunya hal tersebut sangat menyenagkan. Contoh yang paling nyata saat ini adalah seketika menjadi terkenal, seketika menjadi artis, seketika menjadi idola, dan seketika menjadi kaya. Saya rasa tidak ada orang yang ingin menolak rezeki bak tertimpa durian runtuh itu.

Namun, apakah hal tersebut terjamin? Jawabannya, TIDAK! Banyak (bisa lah dikatakan) artis-artis, jebolan ajang pencarian bakat yang pada mulanya dipuja oleh kalangan masyarakat, dari yang muda hingga yang tua, namun, tak lama setelah itu nama mereka redup. Dan jika ada beberapa yang masih eksis, ke-eksis-an mereka pun sayup-sayup [tak] sampai. Begitulah kejamnya sesuatu yang sifatnya instan!

Nah, bagaimana jika hal yang instan tersebut terjadi pada rasa cinta? Saya yakin anda yang membaca tulisan ini pernah merasakan jatuh cinta pada seseorang, padahal baru beberapa hari saja anda mengenalnya. Well, rasanya saat anda jatuh cinta itu memang menyenangkan. Apalagi si dia juga menunjukkan rasa yang sama dengan apa yang anda rasakan.

Tapi, bagaimana jika merujuk pada pernyataan saya yang pertama? Bahwa sesuatu yang instan itu tidak akan bertahan lama. Seuatu yang instan akan cepat tenggalam. Jika sudah tenggelam, pasti akan menyakitkan. Bagaimana jika itu terjadi dalam hubungan percintaan anda? Pernahkan anda memikirkan hal tersebut sebelumnya?

Mungkin saya adalah salah satu korban dari ke-instan-an itu. Merasa cepat mencintai seseorang yang belum lama saya kenal. Dia pun begitu, secara terus terang mengaku mencintai saya. Namun, beberapa hari belakangan ini rasa yang ada untuknya terasa berbeda. Saya juga merasa dia seperti itu. Intensitas hubungan kami terasa hambar. Jauh berbeda dari sebelumnya.

Ada apa sebenarnya? Apa ini kejenuhan? Ah, saya yakin tidak! Ntah mengapa saya merasa sikap dia yang berubah kepada saya, tidak semestra dulu, tidak seakrab dulu dengan saya, dia seperti orang lain bagi saya! Ada apa? Apa dia jenuh dengan saya?

Saya tidak menyangka hubungan ini berubah begitu cepat. SANGAT CEPAT! Empat hari sebelumnya saya rasa hubungan saya dengan dia baik-baik saja. Tapi, malam setelah itu semuanya perlahan berubah. Antara saya dan dia serasa ada jarak yang perlahan memisahkan kami. Membuat kami tidak sedekat kemarin-kemarin.

Padahal, saya sangat berharap dengannya. Saya ingin dia menjadi orang yang terakhir untuk saya. Saya bosan dengan segala cerita cinta yang tidak berujung. Saya ingin dia yang menutup lembaran cerita cinta saya. Tapi, apakah itu bisa? Apakah keinginan saya itu akan terkabul? Melihat keadaan sekarang saja saya sangat SANGAT pesimis! Rasanya saya tidak sanggup jika harus gagal lagi dalam menjalin hubungan.

Anyway, saya harap anda jangan mau sesuatu yang instan, apalagi hal itu tentang perasaan. Ya, Tuhan, tolong tenangkan perasaan ini. Tenangkan hati ini. Saya mohon, jaga dia di sana, jaga dia baik-baik, jaga raganya, jaga perasaannya, untuk saya…………………………..

Aku takut engkau patahkan hatiku  buat ku semakin terluka

dan tak akan pernah termaafkan….

-Jangan Tinggalkan Aku, September Band

@02.56 AM [still remember you]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: