Video Klip J-Lo, Ajarkan Perilaku Anarkis

Bagi kamu penyuka musik-musik mancanegara, saya rasa kamu tidak asing lagi dengan lagu Papi yang dilantunkan oleh penyanyi sexy asal Amerika Serikat, Jennifer Lopez. Lagu yang dirilis tahun 2011 ini mendapat tempat cukup bergengsi di deretan lagu-lagu Amerika. By the way, sudahkah kamu melihat videonya? Honestly, saya pribadi agak sedikit telat menonton video lagu berirama nge-bite tersebut. Malahan saya tahu dari salah seorang teman.

Setelah saya menyaksikan video tersebut, saya agak sedikit risih dengan adegan-adegan yang ditampilkan di dalamnya. In other word, i afraid because… you know? It’s hardness! Awalnya, banyangan saya ketika pertama kali mendengar lagu Papi langsung tertuju pada settingan indoor bernuansa gelap, full of spotlight, full of sexy dancers, full of luxury! Ternyata banyangan itu 360 derajat berbeda! Bahkan saya menganggap video klip tersebut tidak nyambung dengan lirik yang dilantunkan.

Lopez tiba-tiba menjadi wanita idola setelah memakan sebuah kue! LOL! Well, Hal tersebut masih bisa dimaklumi. Tapi, saya tidak habis pikir mengapa di dalam video klip tersebut ditampilkan berbagai adegan kekerasann hanya untuk mendapatkan sang ‘Super Ladies’ tersebut. Dari mana sih sang sutradara dapat ide seperti itu? Ada yang sengaja menabrakkan diri dengan orang lain, tabrakan mobil yang dibuat sedramatis mungkin, ada yang keluar dari sebuah kantor dengan menabrakkan diri ke kaca, saling keroyok, saling amuk, bahkan ada yang menjatuhkan diri dari atas gedung, dan masih banyak lagi (speechless nyebutinnya).

What the hell! Video klip teraneh yang pernah saya lihat. Video tersebut sama saja mengajarkan perilaku anarkis kepada penontonnya, menurut saya. Walau banyak hal serupa yang sering kita saksikan pada film-film barat, tentu terdapat sense of different di antara keduanya. Di mana video klip mengandung hentakan irama yang lebih menghibur dibanding dengan film yang notabene-nya adalah dialog. Dengan demikain, orang-orang cenderung lebih senang menyaksikan video klip karena memiliki musik dan video yang dapat secara langsung dinikmati. Hal ini pulalah yang membuat para penonton lebih cepat terpengaruh pada adegan-adegan yang ada di video sebuah lagu.

Lantas, bagaimana dengan adegan yang ada di video klip J-Lo tersebut? Jika ditilik dari peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang tertuang pada P3-SPS, video tersebut tidak layak ditayangkan di Indonesia karena mengandung adegan-adegan kekerasan. Ya, semoga saja video tersebut tidak berkeliaran dengan bebas di layar kaca Indonesia. Tapi, bagaimana dengan situs internet? Hmm… sorry, I can’t estimate it!

Anyway, memang benar apa yang dikatakan oleh salah seorang filsuf. Walau saat ini kita tidak diserang dengan senjata api, meriam, dan alat-alat perang lainnya, bangsa-bangsa barat menyerang kita dengan berbagai hal berkedok entertaiment yang membuat kita terbuai dan tidak sadar bahwa kita menjadi boneka di dalammnya.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: